Kimia Tanah

Mineral TanahBahan mineral tanah merupakan bahan anorganik tanah yang terdiri dari berbagai ukuran, komposisi dan jenis mineral. Mineral tanah berasal dari hasil pelapukan batuan-batuan yang menjadi bahan induk tanah. Pada mujlanya batuan dari bahan induk tanah mengalami proses pelapukan dan menghasilkan regolit. Pelapukan lebih lanjut menghasilkan tanah dengan tektur masih kasar.

Ukuran mineral tanah sangat beragam mulai dari ukuran sangat kasar sampai dengan ukuran yang sangat halus seperti mineral liat. Mineral liat hanya dapat dilihat dengan bantuan mikroskop elektron. Sifat mineral liat ditentukan dari:
(1) susunan kimia pembentuknya yang tetap dan tertentu, terutama berkaitan dengan penempatan internal atom-atomnya,
(2) sifat fisiko-komia dengan batasan waktu tertentu, dan
(3) kecendrungan membentuk geometris tertentu.

Komposisi mineral dalam tanah sangat tergantung dari beberapa faktor sebagai berikut:
(1) jenis batuan induk asalnya,
(2) proses-proses yang bekerja dalam pelapukan batuan tersebut, dan
(3) tingkat perkembangan tanah.

Bahan induk tanah mineral berasal dari berbagai jenis batuan induk, sehingga dalam proses pelapukannya akan menghasilkan keragaman mineral tanah yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan yang erat antara komposisi mineral bahan induk dengan komposisi mineral batuannya. Sebagai contoh adalah tanah yang terbentuk dari bahan induk yang berasal dari batuan basalt dan granit, akan memiliki komposisi mineral tanah sebagai berikut:
(1) mineral kuarsa,
(2) mineral ortoklas,
(3) mineral mikroklin,
(4) mineral albit
(5) mineral oligoklas,
(6) mineral muskovit,
(7) mineral biotit.
(8) mineral dll.

Pada tanah-tanah yang mudah melapuk dan peka terhadap proses pencucian (leaching), seperti tanah Podzol, ditemujkan mineal yang didominasi hanya jenis mineral: (1) kuarsa, dan (2) ortoklas. Dominasi kedua mineral ini disebabkan karena kedua mineral ini relatif lebih resisten terhadap pelapukan. Berbeda dengan tanah-tanah yang belum mengalami pelapukan (kurang mengalami pelapukan), maka dalam tanah tersebut masih ditemukan mineral tanah yang beragam dengan komposisi mineral tanah pada setiap lapisan yang hampir seragam.

Berdasarkan keberadaan silikat dalam mineral tanah, maka mineral dalam tanah dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu:
(1) kelompok mineral silikat, dan
(2) kelompok mineral bukan silikat.


A. Kelompok Mineral Silikat:

Kelompok mineral silikat dibagi lagi menjadi 11 kelompok, yaitu:

(1) Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mineral Liat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mineral liat adalah:
(1.1) Mineral Liat Kaolinit {Si4Al4O10(OH)4}
(1.2) Mineral Liat Vermikulit {AlMg5(OH)12(Al2Si6)}
(1.3) Mineral Liat Klorit {AlMg5O20(OH)4}
(1.4) Mineral Liat Montmorillonit

(2) Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Mika:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok mika adalah:
(2.1) Mineral Muskovit {K2Al2Si6Al4O20(OH)4}
(2.2) Mineral Biotit {K2Al2Si6(Fe++,Mg)6.O20(OH)4}

(3) Struktur Kristal Silikat Lempeng yang masuk kelompok Serpentin:
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat lempeng kelompok serpentin adalah:
(3.1) Mineral Serpentin {Mg3Si2O5(OH)4}

(4) Struktur Kristal Silikat Kerangka Feldsfar:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kerangka feldsfar adalah:
(4.1) Mineral Alkali Feldsfar {(Na,K)2O.Al2O3.6SiO2}
(4.2) Mineral Plagioklas (Na2O.Al2O3.6SiO2)

(5) Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Piroksin:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok piroksin adalah:
(5.1) Mineral Enstatit (MgO.SiO2)
(5.2) Mineral Hipersten {(Mg,Fe)O.SiO2}
(5.3) Mineral Diopsit (CaO.MgO.2SiO2)
(5.4) Mineral Augit {CaO.2(Mg,Fe)O.(Al,Fe)2O3.3SiO2}

(6) Struktur Kristal Silikat Rantai Kelompok Amfibol:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat rantai kelompok amfibol adalah:
(6.1) Mineral Hornblende {Ca3Na2(Mg,Fe)8(Al.Fe)4.Si14O44(OH)4}
(6.2) Mineral Termolit {2CaO.5(Mg,Fe)O.8SiO2.H2O}

(7) Struktur Kristal Silikat Kelompok Olivin:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok olivin adalah:
(7.1) Mineral Olivin {2(Mg,Fe)O.SiO2}
(7.2) Mineral Titanit (CaO.SiO2.TiO2)
(7.3) Mineral Tormalin (Na2O.8FeO.8Al2O3.4B2O3.16SiO2.5H2O)
(7.4) Mineral Sirkon (ZrO2.SiO2)

(8) Struktur Kristal Silikat Kelompok Garnet:
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok garnet adalah:
(8.1) Mineral Almandit (Fe3Al2Si3O12)

(9) Struktur Kristal Silikat Kelompok Epidol:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat dengan struktur kristal silikat kelompok epidol adalah:
(9.1) Mineral Soisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)
(9.2) Mineral Klinosoisit (4CaO.3Al2O3.6SiO2.H2O)
(9.3) Mineral Epidot (4CaO.3(Al,Fe)2º3.6SiO2.H2O)

(10) Struktur Kristal Silikat Orto dan Cincin:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat orto dan cincin adalah:
(10.1) Mineral Klanit (Al2O3.SiO2)
(10.2) Mineral Silimanit (Al2O3.SiO2)

(11) Struktur Kristal Silikat:
Mineral yang termasuk dalam mineral silikat kelompok struktur kristal silikat adalah:
(11.1) Mineral Andalusit (Al2O3.SiO2)

B. Kelompok Mineral Bukan Silikat:

Kelompok mineral bukan silikat dibagi lagi menjadi 6 kelompok, yaitu: (1) mineral fosfat, (2) mineral karbonat, (3) mineral klorit, (4) mineral sulfat, (5) mineral hidroksida, dan (6) mineral oksida. Contoh mineral tanah yang termasuk keenam kelompok mineral bukan silikat ini disajikan sebagai berikut:

(1) Mineral Fosfat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral fosfat adalah:
(1.1) Mineral Apatit {Ca4(CaF)(PO4)3} atau {Ca4(CaCl)(PO4)3}

(2) Mineral Karbonat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral karbonat adalah:
(2.1) Mineral Kalsit (CaCO3)
(2.2) Mineral Dolomit {(Ca, Mg)CO3}

(3) Mineral Klorit:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral klorit adalah:
(3.1) Mineral Halit (NaCl)

(4) Mineral Sulfat:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral sulfat adalah:
(4.1) Mineral Gipsum (CaSO4.2H2O)
(4.2) Mineral Jarosit {KFe3(OH)6(SO4)2}

(5) Mineral Hidroksida:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral hidoksida adalah:
(5.1) Mineral Gibsit {Al(OH)3}
(5.2) Mineral Buhmit {Gamma – Al.O(OH)}
(5.3) Mineral Gutit {Alfa – FeO.OH}
(5.4) Mineral Lepidokrosit {Gamma – FeO.OH}

(6) Mineral Oksida:
Beberapa mineral yang termasuk dalam mineral bukan silikat kelompok mineral oksida adalah:
(6.1) Mineral Hematit (Fe2O3)
(6.2) Mineral Ilmenit (FeO.TiO2)
(6.3) Mineral Rutil (TiO2)
(6.4) Mineral Anatase (TiO2)
(6.5) Mineral Brokit (TiO2)
(6.6) Mineral Magnetik (Fe3O4)

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 21:25 0 komentar

Kamis, 30 April 2009

Kadar Hara Mikro Tanaman

Kadar Beberapa Hara Mikro Pada Berbagai TanamanKadar hara mikro (g/ha) pada berbagai tanaman berbeda-beda dan sangat tergantung dengan jenis tanaman dan bagian tanaman yang dianalisis. Kadar hara mikro pada bagian jerami tanaman berbeda dengan kadar hara mikro pada bagian biji, gabah, polong, buah, siung, umbi, dan daun. Beberapa hasil analisis kadar hara mikro pada beberapa tanaman meliputi: (a) tanaman pangan, (b) tanaman buah-buahan, (c) tanaman sayur-sayuran, dan (d0 tanaman industri, disajikan sebagai berikut:

A. Tanaman Pangan
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman pangan meliputi: (1) tanaman padi, (b) tanaman jagung, (3) tanaman kedelai, dan (4) tanaman kacang tanah, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Padi:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman padi pada Gabah dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(1.1). Kadar Hara Mikro pada Gabah Padi:
(a) Hasil Gabah: 2,85 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 11 g/ha dan 3,86 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 11 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 90 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 78 g/ha

(1.2). Kadar Hara Mikro pada Jerami Padi:
(a) Hasil Gabah : 2,80 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : — g/ha dan —– g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : — g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 1.771 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : — g/ha

(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Jagung:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman Jagung dalam bentuk biji pipilan kering dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Jagung:
(a) Hasil Biji Pipilan Kering Jagung: 5,34 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 67 g/ha dan 12,55 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 67 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 101 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 168 g/ha

(2.2) Kadar Hara Mikro pada Jerami Tanaman Jagung:
(a) Hasil Biji Pipilan Kering Jagung : 5,00 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 56 g/ha dan 11,20 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 56 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 1.681 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 336 g/ha

(3) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kedelai:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman Kedelai dalam bentuk biji dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(3.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Kedelai:
(a) Hasil Biji Kedelai : 1,22 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 45 g/ha dan 36,88 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 45 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 56 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 45 g/ha

(3.2) Kadar Hara Mikro pada Jerami Tanaman Kedelai:
(a) Hasil Jerami Tanaman Kedelai : 2,24 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : — g/ha dan 20,09 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 45 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 516 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 168 g/ha

(4) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kacang Tanah:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman Kacang Tanah berupa polong dan Jerami, disajikan sebagai berikut:

(4.1) Kadar Hara Mikro pada Polong Kacang Tanah:
(a) Hasil Polong Kacang Tanah : 1,25 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 22 g/ha dan 17,60 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 22 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 11 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : — g/ha

(4.2) Kadar Hara Mikro pada Jerami Tanaman Kacang Tanah:
(a) Hasil Jerami Tanaman Kacang Tanah : 2,50 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : — g/ha dan — g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : — g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 258 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : — g/ha

B. Tanaman Buah-Buahan
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman buah-buahan meliputi: (1) tanaman apel, dan (2) tanaman jeruk, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Apel:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman apel berupa buah apel, disajikan sebagai berikut:

(1.1) Kadar Hara Mikro pada Buah Apel:
(a) Hasil Buah Apel : 5,08 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 6,69 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 34 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 34 g/ha

(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Jeruk:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman jeruk berupa buah jeruk, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Buah Jeruk:
(a) Hasil Buah Jeruk : 70,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 220 g/ha dan 3,125 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 220 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 67 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 269 g/ha

C. Tanaman Sayur-Sayuran
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman sayur-sayuran meliputi: (1) tanaman bayam, (2) tanaman tomat, (3) tanaman buncis, (4) tanaman kol, (5) bawang putih, (6) tanaman kentang, dan (7) tanaman kentang manis, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Bayam:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman bayam berupa bayam utuh, disajikan sebagai berikut:

(1.1) Kadar Hara Mikro pada Bayam:
(a) Hasil Bayam Utuh : 5,60 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 22 g/ha dan 3,93 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 22 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 112 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 112 g/ha

(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Tomat:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman tomat berupa buah tomat, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Buah Tomat:
(a) Hasil Buah Tomat : 22,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 78 g/ha dan 3,48 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 78 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 146 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 179 g/ha

(3) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Buncis:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman buncis berupa biji buncis, disajikan sebagai berikut:

(3.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Buncis:
(a) Hasil Biji Buncis : 0,91 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 22 g/ha dan 24,18 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 22 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 34 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 67 g/ha

(4) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kol:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kol berupa bagian atas tanaman (kecuali akar) atau shoot, disajikan sebagai berikut:

(4.1) Kadar Hara Mikro pada Bagian Atas Tanaman Kol (Shoot):
(a) Hasil Bagian Atas Tanaman Kol : 22,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 47 g/ha dan 24,18 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 47 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 112 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 93 g/ha

(5) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Bawang Putih:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman bawang putih berupa siung bawang putih, disajikan sebagai berikut:

(5.1) Kadar Hara Mikro pada Bawang Putih:
(a) Hasil Siung Bawang Putih : 8,40 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 4,05 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 67 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 34 g/ha

(6) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kentang:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kentang berupa umbi kentang, disajikan sebagai berikut:

(6.1) Kadar Hara Mikro pada Umbi Kentang:
(a) Hasil Umbi Kentang : 10,16 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 45 g/ha dan 4,43 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 45 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 101 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 56 g/ha

(7) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kentang Manis:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kentang manis berupa umbi kentang manis, disajikan sebagai berikut:

(7.1) Kadar Hara Mikro pada Umbi Kentang Manis:
(a) Hasil Umbi Kentang Manis : 7,60 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 4,47 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 67 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 34 g/ha

D. Tanaman Industri
Beberapa hasil analisis kadar hara mikro tanaman industri, meliputi: (1) tanaman tembakau untuk industri rokok, dan (2) tanaman kapuk untuk industri mebeler, disajikan sebagai berikut:

(1) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Tembakau:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman tembakau berupa daun tembakau, disajikan sebagai berikut:

(1.1) Kadar Hara Mikro pada Daun Tembakau:
(a) Hasil Daun Tembakau : 1,02 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 33,33 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 617 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 78 g/ha

(2) Kadar Hara Mikro pada Tanaman Kapuk:
Kadar hara mikro Tembaga (Cu), Kobalt (Co), Mangan (Mn), dan Seng (Zn) serta Hasil tanaman kapuk berupa biji kapuk, disajikan sebagai berikut:

(2.1) Kadar Hara Mikro pada Biji Kapuk:
(a) Hasil Biji Kapuk : 0,76 ton/ha
(b) Kadar hara mikro Tembaga (Cu) : 34 g/ha dan 44,74 g/ton
(c) Kadar hara mikro Kobalt (Co) : 34 g/ha
(d) Kadar hara mikro Mangan (Mn) : 617 g/ha
(e) Kadar hara mikro Seng (Zn) : 78 g/ha

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. Http://dasar2ilmutanah.blogspot.com.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halaman.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 03:32 0 komentar

Kisaran Kadar Kecukupan Hara Mikro Essensial Tanaman

Kisaran Kadar Kecukupan Hara Mikro Essensial Pada Berbagai TanamanTanaman membutuhkan hara mikro dalam kisaran kecukupan yang beragam. Berikut ini disajikan kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial dari dari berbagai tanaman:

A. Tanaman Pangan

(1) Tanaman Padi (Oryza sativa L.):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman padi bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 5 s/d 15 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 8 s/d 25 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 70 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 150 s/d 800 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 18 s/d 50 mg/kg.


(2) Tanaman Jagung (Zea mays L.):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jagung bagian pucuk, daun tua, dan daun bendera, adalah sebagai berikut:

(2.1) Pada Bagian Pucuk Tanaman Jagung:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 5 s/d 25 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 20 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 50 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 mg/kg s/d 60 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 10 mg/kg.

(2.2) Pada Bagian Daun Tua Tanaman Jagung:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 4 s/d 25 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 3 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 10 s/d 20 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 15 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 60 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 3 mg/kg.

(2.3) Pada Bagian Daun Bendera Tanaman Jagung:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 5 s/d 25 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 6 s/d 20 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 21 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 25 s/d 100 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): > 0,2 mg/kg..

(3) Tanaman Kedelai (Glycine max):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kedelai bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 21 s/d 55 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 10 s/d 30 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 51 s/d 350 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 21 s/d 100 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 21 s/d 50 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 1 s/d 5 mg/kg.

(4) Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kacang tanah bagian trubus, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 60 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 50 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 60 s/d 350 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 60 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 5,0 mg/kg.

(5) Tanaman Ubi Kayu (Manihot esculeta):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman ubi kayu bagian daun muda dan pangkal batang, adalah sebagai berikut:

(5.1) Pada Bagian Daun Muda Tanaman Ubi Kayu:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 15 s/d 20 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 7 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 250 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 40 s/d 100 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(5.2) Pada Bagian Pangkal Batang Tanaman Ubi Kayu:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 33 s/d 40 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 6 s/d 7 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 82 s/d 150 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 40 s/d 70 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 33 s/d 43 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

B. Tanaman Sayur-Sayuran:

(1) Tanaman Kacang Panjang (Phaseolus vulgaris):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kacang panjang bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 7 s/d 30 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 50 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(2) Tanaman Brokoli (Brassica oleraceae):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman brokoli bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 30 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 70 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 35 s/d 300 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(3) Tanaman Kol (Brassica oleraceae capitata):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kol bagian pucuk dan daun buah, adalah sebagai berikut:

(3.1) Pada Bagian Pucuk Tanaman Kol:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 30 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 25 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(3.2) Pada Bagian Daun Buah Tanaman Kol:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 30 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,4 s/d 1,0 mg/kg.

C. Tanaman Buah-Buahan:

(1) Tanaman Mangga (Mangifera indica):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman mangga bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 7 s/d 50 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 50 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 250 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(2) Tanaman Jeruk Orange (Citrus sinensis):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jeruk orange bagian daun tua, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 100 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 150 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 25 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,1 s/d 3,9 mg/kg.

(3) Tanaman Jeruk Lemon (Citrus lemon):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jeruk lemon bagian daun, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 200 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 100 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 100 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 50 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): 0,3 s/d 3,0 mg/kg.

(4) Tanaman Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman jeruk nipis bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 30 s/d 100 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 100 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 60 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(5) Tanaman Pepaya (Carica papaya):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman pepaya bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 20 s/d 30 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 4 s/d 10 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 25 s/d 100 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 20 s/d 150 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 40 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(6) Tanaman Pisang (Musa sp.):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman pisang bagian daun muda dan daun tua, adalah sebagai berikut:

(6.1) Pada Bagian Daun Muda Tanaman Pisang:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 15 s/d 50 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 6 s/d 30 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 100 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 200 s/d 2000 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 13 s/d 50 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(6.2) Pada Bagian Daun Tua Tanaman Pisang:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 10 s/d 50 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 25 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 76 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 100 s/d 1000 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(7) Tanaman Nenas (Ananas comosus):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman nenas bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B):
lebih dari 30 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu):
kurang dari 10 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe):
100 mg/kg s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn):
50 mg/kg s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn):
lebih dari 20 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo):
— mg/kg.

D. Tanaman Perkebunan (Industri):

(1) Tanaman Karet (Ficus benyamina):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman karet bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 30 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 8 s/d 25 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 30 s/d 200 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 200 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(2) Tanaman Kopi (Coffea arabica):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman kopi bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 25 s/d 75 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 10 s/d 50 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 90 s/d 300 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 50 s/d 300 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 15 s/d 200 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo): — mg/kg.

(3) Tanaman Tebu (Saccharum officinarum):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman tebu bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 4 s/d 30 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu): 5 s/d 15 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe): 40 s/d 250 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn): 25 s/d 400 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn): 20 s/d 100 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo):
0,05 mg/kg s/d 4,0 mg/kg.

(4) Tanaman Tembakau (Nicotiana tobaccum):
Kisaran kadar kecukupan hara mikro essensial pada tanaman tembakau bagian daun muda, adalah sebagai berikut:
(a) kisaran kadar kecukupan hara mikro Boron (B): 14 s/d 50 mg/kg.
(b) kisaran kadar kecukupan hara mikro Tembaga (Cu):
10 mg/kg s/d 60 mg/kg.
(c) kisaran kadar kecukupan hara mikro Besi (Fe):
59 mg/kg s/d 530 mg/kg.
(d) kisaran kadar kecukupan hara mikro Mangan (Mn):
26 mg/kg s/d 400 mg/kg.
(e) kisaran kadar kecukupan hara mikro Seng (Zn):
17 mg/kg s/d 110 mg/kg.
(f) kisaran kadar kecukupan hara mikro Molidenum (Mo):
0,4 mg/kg s/d 0,6 mg/kg.

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halaman.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 03:12 0 komentar

Senin, 27 April 2009

Kadar dan Serapan Hara Tanaman

Kadar dan Serapan Unsur Hara Essensial Berbagai TanamanKadar dan serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman sangat bervariasi. Kadar dan serapan unsur hara essensial tanaman pangan berbeda dengan tanaman buah-buahan dan tanaman sayur-sayuran serta tanaman industri. Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman jagung berbeda dengan tanaman padi, kacang tanah dan kedelai. Kadar dan serapan unsur hara essensial pada jerami atau bagian vegetatif berbeda dengan pada biji atau bagian generatif.

Data kadar dan serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman yang meliputi: (a) tanaman pangan, (b) tanaman buah-buahan, (c) tanaman sayur-sayuran, dan (d) tanaman industri, disajikan dalam uraian berikut:

A. Tanaman Pangan:
Data kadar dan serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman pangan yaitu meliputi: (a) tanaman jagung, (b) tanaman padi, (c) tanaman kacang tanah, dan (d) tanaman kedelai, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Jagung:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman jagung pada bagian biji dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(1.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Biji Jagung:
(a) Hasil : 5,34 ton/ha
(b) Serapan N : 151,30 kg/ha Kadar N : 2,83 %
(c) Serapan P : 25,80 kg/ha Kadar P : 0,48 %
(d) Serapan K : 37,00 kg/ha Kadar K : 0,69 %
(e) Serapan Ca : 17,90 kg/ha Kadar Ca : 0,37 %
(f) Serapan Mg : 22,40 kg/ha Kadar Mg : 0,42 %
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha Kadar S : 0,29 %
(h) Serapan Co : 0,067 kg/ha Kadar Co : 12,50 ppm
(i) Serapan Mn : 0,101 kg/ha Kadar Mn :189,00 ppm
(j) Serapan Zn : 0,168 kg/ha Kadar Zn : 31,50 ppm

(1.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Jagung:
(a) Bobot : 5,00 ton/ha
(b) Serapan N : 112,10 kg/ha Kadar N : 2,24 %
(c) Serapan P : 17,90 kg/ha Kadar P : 0,36 %
(d) Serapan K : 134,50 kg/ha Kadar K : 2,69 %
(e) Serapan Ca : 31,40 kg/ha Kadar Ca : 0,63 %
(f) Serapan Mg : 19,10 kg/ha Kadar Mg : 0,38 %
(g) Serapan S : 11,20 kg/ha Kadar S : 0,22 %
(h) Serapan Co : 0,056 kg/ha Kadar Co : 11,20 ppm
(i) Serapan Mn : 1,681 kg/ha Kadar Mn : 319,00 ppm
(j) Serapan Zn : 0,336 kg/ha Kadar Zn : 67,20 ppm

(1.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Jagung:
(a) Kadar N : 2,55 %
(b) Kadar P : 0,42 %
(c) Kadar K : 1,66 %
(d) Kadar Ca : 0,48 %
(e) Kadar Mg : 0,40 %
(f) Kadar S : 0,26 %
(g) Kadar Co : 11,90 ppm
(h) Kadar Mn : 17,20 ppm
(i) Kadar Zn : 48,70 ppm

(2) Tanaman Padi:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman padi pada gabah dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(2.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial dalam Gabah:
(a) Hasil : 2,85 ton/ha
(b) Serapan N : 56,00 kg/ha Kadar N : 1,96 %
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha Kadar P : 3,54 %
(d) Serapan K : 9,00 kg/ha Kadar K : 0,32 %
(e) Serapan Ca : 3,40 kg/ha Kadar Ca : 0,12 %
(f) Serapan Mg : 4,50 kg/ha Kadar Mg : 0,16 %
(g) Serapan S : 3,40 kg/ha Kadar S : 0,12 %
(h) Serapan Co : 0,011 kg/ha Kadar Co : 3,86 ppm
(i) Serapan Mn : 0,090 kg/ha Kadar Mn : 31,60 ppm
(j) Serapan Zn : 0,078 kg/ha Kadar Zn : 27,40 ppm

(2.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Padi:
(a) Bobot : 2,80 ton/ha
(b) Serapan N : 33,60 kg/ha Kadar N : 1,20 %
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha Kadar P : 0,20 %
(d) Serapan K : 65,00 kg/ha Kadar K : 2,32 %
(e) Serapan Ca : 10,10 kg/ha Kadar Ca : 0,36 %
(f) Serapan Mg : 5,60 kg/ha Kadar Mg : 0,20 %
(g) Serapan S : —— kg/ha Kadar S : —– %
(h) Serapan Co : —— kg/ha Kadar Co : —– ppm
(i) Serapan Mn : 1,771 kg/ha Kadar Mn : 632 ppm
(j) Serapan Zn : —— kg/ha Kadar Zn : —— ppm

(2.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Padi:
(a) Kadar N : 1,59 %
(b) Kadar P : 0,28 %
(c) Kadar K : 1,26 %
(d) Kadar Ca : 0,24 %
(e) Kadar Mg : 0,18 %
(f) Kadar S : —– %
(g) Kadar Co : —– ppm
(h) Kadar Mn : 329 ppm
(i) Kadar Zn : —– ppm

(3) Tanaman Kacang Tanah:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman kedelai pada polong dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(3.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Polong Kacang Tanah:
(a) Hasil : 1,25 ton/ha
(b) Serapan N : 100,90 kg/ha Kadar N : 8,07 %
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha Kadar P : 0,49 %
(d) Serapan K : 14,60 kg/ha Kadar K : 1,17 %
(e) Serapan Ca : 1,10 kg/ha Kadar Ca : 0,09 %
(f) Serapan Mg : 3,40 kg/ha Kadar Mg : 0,27 %
(g) Serapan S : 6,70 kg/ha Kadar S : 0,54 %
(h) Serapan Co : 0,022 kg/ha Kadar Co : 17,60 ppm
(i) Serapan Mn : 0,011 kg/ha Kadar Mn : 8,80 ppm
(j) Serapan Zn : —— kg/ha Kadar Zn : —– ppm

(3.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Kacang Tanah:
(a) Bobot : 2,50 ton/ha
(b) Serapan N : 117,70 kg/ha Kadar N : 4,71 %
(c) Serapan P : 12,30 kg/ha Kadar P : 0,49 %
(d) Serapan K : 88,60 kg/ha Kadar K : 3,54 %
(e) Serapan Ca : 50,40 kg/ha Kadar Ca : 2,02 %
(f) Serapan Mg : 19,10 kg/ha Kadar Mg : 0,08 %
(g) Serapan S : 17,90 kg/ha Kadar S : 0,72 %
(h) Serapan Co : —— kg/ha Kadar Co : —— ppm
(i) Serapan Mn : 0,258 kg/ha Kadar Mn : 103,20 ppm
(j) Serapan Zn : —— kg/ha Kadar Zn : —— ppm

(3.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Kacang Tanah:
(a) Kadar N : 5,83 %
(b) Kadar P : 0,48 %
(c) Kadar K : 2,75 %
(d) Kadar Ca : 1,37 %
(e) Kadar Mg : 0,06 %
(f) Kadar S : 0,66 %
(g) Kadar Co : —- ppm
(h) Kadar Mn : 71,70 ppm
(i) Kadar Zn : —– ppm

(4) Tanaman Kedelai:
Kadar dan serapan unsur hara essensial pada tanaman kedelai pada bagian biji dan jerami serta total tanaman disajikan sebagai berikut:

(4.1) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Biji Kedelai:
(a) Hasil : 1,22 ton/ha
(b) Serapan N : 168,10 kg/ha Kadar N : 13,77 %
(c) Serapan P : 17,90 kg/ha Kadar P : 1,47 %
(d) Serapan K : 51,60 kg/ha Kadar K : 4,23 %
(e) Serapan Ca : 7,80 kg/ha Kadar Ca : 0,64 %
(f) Serapan Mg : 7,80 kg/ha Kadar Mg : 0,64 %
(g) Serapan S : 4,50 kg/ha Kadar S : 0,37 %
(h) Serapan Co : 0,045 kg/ha Kadar Co : 36,90 ppm
(i) Serapan Mn : 0,056 kg/ha Kadar Mn : 45,90 ppm
(j) Serapan Zn : 0,045 kg/ha Kadar Zn : 36,90 ppm

(4.2) Serapan dan Kadar Unsur Hara Essensial pada Jerami Kedelai:
(a) Bobot : 2,24 ton/ha
(b) Serapan N : 100,90 kg/ha Kadar N : 4,50 %
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha Kadar P : 0,45 %
(d) Serapan K : 47,10 kg/ha Kadar K : 2,10 %
(e) Serapan Ca : 44,80 kg/ha Kadar Ca : 2,00 %
(f) Serapan Mg : 20,20 kg/ha Kadar Mg : 0,90 %
(g) Serapan S : 11,20 kg/ha Kadar S : 0,50 %
(h) Serapan Co : 0,045 kg/ha Kadar Co : 20,10 ppm
(i) Serapan Mn : 0,516 kg/ha Kadar Mn :230,40 ppm
(j) Serapan Zn : 0,168 kg/ha Kadar Zn : 75,00 ppm

(4.3) Kadar Total Unsur Hara Essensial Tanaman Kedelai:
(a) Kadar N : 7,77 %
(b) Kadar P : 0,81 %
(c) Kadar K : 2,85 %
(d) Kadar Ca : 1,52 %
(e) Kadar Mg : 0,81 %
(f) Kadar S : 0,45 %
(g) Kadar Co : 26,00 ppm
(h) Kadar Mn :157,10 ppm
(i) Kadar Zn : 61,56 ppm

B. Tanaman Buah-Buahan:
Data serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman buah-buahan yaitu meliputi: (a) tanaman apel, dan (b) tanaman jeruk, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Apel:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman apel pada buah apel disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 5,08 ton/ha
(b) Serapan N : 33,60 kg/ha
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha
(d) Serapan K : 41,50 kg/ha
(e) Serapan Ca : 9,00 kg/ha
(f) Serapan Mg : 5,60 kg/ha
(g) Serapan S : 11,20 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,034 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,034 kg/ha

(2) Tanaman Jeruk:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman jeruk pada buah jeruk disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 70,40 ton/ha
(b) Serapan N : 95,30 kg/ha
(c) Serapan P : 14,60 kg/ha
(d) Serapan K : 130,00 kg/ha
(e) Serapan Ca : 37,00 kg/ha
(f) Serapan Mg : 13,40 kg/ha
(g) Serapan S : 10,10 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,220 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,067 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,269 kg/ha

C. Tanaman Sayur-Sayuran:
Data serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman sayur-sayuran, yaitu meliputi: (a) tanaman buncis, (b) tanaman kol, (c) tanaman bayam, (d) tanaman bawang putih, (e) tanaman kentang, (f) tanaman tomat, dan (g) tanaman lobak, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Buncis:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman buncis pada buncis kering disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 0,91 ton/ha
(b) Serapan N : 84,10 kg/ha
(c) Serapan P : 12,30 kg/ha
(d) Serapan K : 23,50 kg/ha
(e) Serapan Ca : 2,20 kg/ha
(f) Serapan Mg : 2,20 kg/ha
(g) Serapan S : 5,60 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,022 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,034 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,067 kg/ha

(2) Tanaman Kol:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman kol disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 22,40 ton/ha
(b) Serapan N : 145,70 kg/ha
(c) Serapan P : 17,90 kg/ha
(d) Serapan K : 121,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 22,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 9,30 kg/ha
(g) Serapan S : 51,20 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,047 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,112 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,093 kg/ha

(3) Tanaman Bayam:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman bayam disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 5,60 ton/ha
(b) Serapan N : 56,00 kg/ha
(c) Serapan P : 7,80 kg/ha
(d) Serapan K : 28,00 kg/ha
(e) Serapan Ca : 13,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 5,60 kg/ha
(g) Serapan S : 4,50 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,022 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,112 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,112 kg/ha

(4) Tanaman Bawang Putih:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman bawang putih dalam bagian siung bawang putih disajikan sebagai berikut:
(a) Hasil : 8,40 ton/ha
(b) Serapan N : 50,40 kg/ha
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha
(d) Serapan K : 37,00 kg/ha
(e) Serapan Ca : 12,30 kg/ha
(f) Serapan Mg : 2,20 kg/ha
(g) Serapan S : 20,20 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,067 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,034 kg/ha

(5) Tanaman Kentang:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman kentang pada bagian umbi tanaman disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot Umbi : 10,16 ton/ha
(b) Serapan N : 89,70 kg/ha
(c) Serapan P : 14,60 kg/ha
(d) Serapan K : 140,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 9,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 6,70 kg/ha
(g) Serapan S : 6,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,045 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,101 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,056 kg/ha

(6) Tanaman Tomat:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman tomat dalam buah tomat disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot Buah : 22,40 ton/ha
(b) Serapan N : 134,50 kg/ha
(c) Serapan P : 20,20 kg/ha
(d) Serapan K : 149,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 7,80 kg/ha
(f) Serapan Mg : 12,30 kg/ha
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,078 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,146 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,179 kg/ha

(7) Tanaman Lobak:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman lobak pada akar (umbi) tanaman disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot : 11,20 ton/ha
(b) Serapan N : 50,40 kg/ha
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha
(d) Serapan K : 84,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 13,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 6,70 kg/ha
(g) Serapan S : —— kg/ha
(h) Serapan Co : —— kg/ha
(i) Serapan Mn : —— kg/ha
(j) Serapan Zn : —— kg/ha

D. Tanaman Industri:
Data serapan unsur hara essensial pada berbagai tanaman industri, yaitu meliputi: (a) tanaman tembakau, (b) tanaman tebu, dan (c) tanaman kapuk, disajikan dalam uraian berikut.

(1) Tanaman Tembakau:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman tembakau pada bagian daun dan tangkai tanaman disajikan sebagai berikut:

(1.1) Daun Tembakau:
(a) Bobot : 1,02 ton/ha
(b) Serapan N : 84,10 kg/ha
(c) Serapan P : 7,80 kg/ha
(d) Serapan K : 112,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 84,10 kg/ha
(f) Serapan Mg : 20,20 kg/ha
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,617 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,078 kg/ha

(1.2) Tangkai dari Daun Tembakau:
(a) Bobot : —— ton/ha
(b) Serapan N : 39,20 kg/ha
(c) Serapan P : 7,80 kg/ha
(d) Serapan K : 47,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : —— kg/ha
(f) Serapan Mg : —— kg/ha
(g) Serapan S : —— kg/ha
(h) Serapan Co : —— kg/ha
(i) Serapan Mn : —— kg/ha
(j) Serapan Zn : —— kg/ha

(2) Tanaman Tebu:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman tebu pada bagian batang tanaman disajikan sebagai berikut:
(a) Bobot : 33,60 ton/ha
(b) Serapan N : 107.60 kg/ha
(c) Serapan P : 26,90 kg/ha
(d) Serapan K : 251,10 kg/ha
(e) Serapan Ca : 31,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 26,90 kg/ha
(g) Serapan S : 26,90 kg/ha
(h) Serapan Co : —— kg/ha
(i) Serapan Mn : —— kg/ha
(j) Serapan Zn : —— kg/ha

(3) Tanaman Kapuk:
Serapan unsur hara essensial pada tanaman kapuk dalam biji dan tangkai daun adalah sebagai berikut:

(3.1) Biji kapas:
(a) Hasil / Bobot : 0,76 ton/ha
(b) Serapan N : 44,80 kg/ha
(c) Serapan P : 10,10 kg/ha
(d) Serapan K : 14,60 kg/ha
(e) Serapan Ca : 84,10 kg/ha
(f) Serapan Mg : 20,20 kg/ha
(g) Serapan S : 15,70 kg/ha
(h) Serapan Co : 0,034 kg/ha
(i) Serapan Mn : 0,617 kg/ha
(j) Serapan Zn : 0,078 kg/ha

(3.2) Tangkai Daun, Burs:
(a) Bobot : 1,02 ton/ha
(b) Serapan N : 39,20 kg/ha
(c) Serapan P : 5,60 kg/ha
(d) Serapan K : 32,50 kg/ha
(e) Serapan Ca : 31,40 kg/ha
(f) Serapan Mg : 9,00 kg/ha
(g) Serapan S : —— kg/ha
(h) Serapan Co : —— kg/ha
(i) Serapan Mn : —— kg/ha
(j) Serapan Zn : —— kg/ha

Urutan Kadar Unsur Hara Essensial dalam Tanaman:

Menurut Jones et al. (1991) dalam Hanafiah (2005) bahwa kadar unsur hara essensial makro dan mikro pada tanaman secara berurutan dari kadar tertinggi sampai dengan terendah berdasarkan perbandingan bobot kering adalah sebagai berikut:
(1) Karbon (45%) hampir sama dengan nomor (2)
(2) Hidrogen (45%)
(3) Oksigen (6%)
(4) Nitrogen (1,5%)
(5) Kalium (1,0%)
(6) Kalsium (0,5%)
(7) Fosfor (0,2%) hampir sama dengan nomor (8)
(8) Magnesium (0,2%)
(9) Belerang (0,1%)
(10) Klor (100 mg/kg) hampir sama dengan nomor (9)
(11) Besi (100 mg/kg)
(12) Boron (50 mg/kg)
(13) Mangan (20 mg/kg) hampir sama dengan nomor (14)
(14) Seng (20 mg/kg)
(15) Tembaga (6 mg/kg)
(16) Molibdenum (0,1 mg/kg).

Daftar Pustaka:

Madjid, A. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Bahan Ajar Online Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya. http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/.

Foth. D.H. 1984. Fundamental of Soil Science. John Wiley & Sons. Inc. Singapore.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Divisi Buku Perguruan Tinggi, PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 360 halaman.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 03:08 0 komentar

Senin, 24 Maret 2008

Tugas Perhitungan Kebutuhan Kapur

Carilah data analisis tanah lengkap dari suatu lokasi penelitian, kemudian hitunglah kebutuhan kapur apabila digunakan untuk budidaya tanaman yang saudara inginkan. Perhitungan kebutuhan kapur dilakukan dengan menggunakan:
1. Metode Al-dd tanah
2. Metode hubungan antara pH tanah, KTK dan Kejenuhan Basa.Tugas dikumpul paling lambat hari Kamis 27 Maret 2008 saat Praktikum dikumpulkan secara kolektif kepada asisten.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 01:28 1 komentar

Senin, 03 Maret 2008

Sifat Kimia Tanah

Beberapa sifat kimia tanah yang penting diketahui, meliputi:
(a) reaksi tanah atau pH tanah,
(b) koloid tanah,
(c) kandungan C-organik tanah,
(d) N-total tanah,
(e) C/N tanah,
(f) P-total tanah,
(g) P-tersedia tanah,
(h) kation-kation basa tanah, meliputi: K, Na, Ca, dan Mg,
(i) kation asam tanah, meliputi: Al, Fe dan H,
(j) kapasitas tukar kation total tanah atau KTK-total tanah,
(k) kapasitas tukar kation efektif tanah atau KTK-efektif tanah,
(l) kejenuhan basa tanah (%),
(m) kejenuhan aluminium tanah (%), dan
(n) kandungan bahan organik tanah.
Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 18:45 1 komentar

Senin, 11 Februari 2008

Kriteria Status Hara Tanaman Karet

Kriteria status hara tanaman karet dapat diketahui dari nilai kandungan hara pada daun tanaman karet. Kandungan hara tersebut terdiri dari kandungan hara Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K) dan Magnesium (Mg). Berdasarkan PTPN VII Musi Landas disusun kriteria sebagai berikut:Kriteria Status Hara Nitrogen (N):
1. Tinggi: kandungan nitrogen daun lebih besar sama dengan 3,51%
2. Sedang: kandungan nitrogen daun berkisar antara 3,30% s/d 3,50%
3. Rendah: kandungan nitrogen daun lebih kecil sama dengan 3,29%

Kriteria Status Hara Fosfor (P):
1. Tinggi: kandungan fosfor daun lebih besar sama dengan 0,237%
2. Sedang: kandungan fosfor daun berkisar antara 0,233% s/d 0,236%
3. Rendah: kandungan fosfor daun lebih kecil sama dengan 0,232%

Kriteria Status Hara Kalium (K):
1. Tinggi: kandungan kalium daun lebih besar sama dengan 1,41%
2. Sedang: kandungan kalium daun berkisar antara 1,31% s/d 1,40%
3. Rendah: kandungan kalium daun lebih kecil sama dengan 1,30%

Kriteria Status Hara Magnesium (Mg):
1. Tinggi: kandungan magnesium daun lebih besar sama dengan 0,221%
2. Sedang: kandungan magnesium daun berkisar antara 0,211% s/d 0,220%
3. Rendah: kandungan magnesium daun lebih kecil sama dengan 0,210%

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 18:14 0 komentar

Senin, 26 November 2007

Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah (Bagian II)

K2O HCl 25%
Nilai K2O (mg/100g) dalam tanah yang terukur dengan metode HCl 25%, dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk mg K2O/100 g tanah < 10,
(2) rendah untuk mg K2O/100 g tanah berkisar antara 10 s/d 20,
(3) sedang untuk mg K2O/100 g tanah berkisar antara 21 s/d 40,
(4) tinggi untuk mg K2O/100 g tanah berkisar antara 41 s/d 60 dan
(5) sangat tinggi untuk mg K2O/100 g tanah lebih dari 60.KTK (Kapasitas Tukar Kation)
Nilai KTK tanah (mg/100g) dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai KTK (mg/100 g) < 5,
(2) rendah untuk nilai KTK (mg/100 g) berkisar antara 5 s/d 16,
(3) sedang untuk nilai KTK (mg/100 g) berkisar antara 17 s/d 24,
(4) tinggi untuk nilai KTK (mg/100 g) berkisar antara 25 s/d 40, dan
(5) sangat tinggi untuk nilai KTK (mg/100g) > 40.

Susunan Kation (K-dd, Na-dd, Mg-dd, dan Ca-dd):

K-dd (me/100g)
Nilai Kalium dapat ditukar atau K-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai K-dd (mg/100 g) < 0,1,
(2) rendah untuk nilai K-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,1 s/d 0,2,
(3) sedang untuk nilai K-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,3 s/d 0,5,
(4) tinggi untuk nilai K-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,6 s/d 1,0, dan
(5) sangat tinggi untuk nilai K-dd (mg/100g) > 1,0.

Na-dd (me/100g)
Nilai Natrium dapat ditukar atau Na-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai Na-dd (mg/100 g) < 0,1,
(2) rendah untuk nilai Na-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,1 s/d 0,3,
(3) sedang untuk nilai Na-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,4 s/d 0,7,
(4) tinggi untuk nilai Na-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,8 s/d 1,0, dan
(5) sangat tinggi untuk nilai Na-dd (mg/100g) > 1,0.

Mg-dd (me/100g)
Nilai Magnesium dapat ditukar atau Mg-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) < 0,4,
(2) rendah untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) berkisar antara 0,4 s/d 0,1,
(3) sedang untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) berkisar antara 1,1 s/d 2,0,
(4) tinggi untuk nilai Mg-dd (mg/100 g) berkisar antara 2,1 s/d 8,0 dan
(5) sangat tinggi untuk nilai Mg-dd (mg/100g) > 8,0.

Ca-dd (me/100g)
Nilai Kalsium dapat ditukar atau Ca-dd (me/100g) dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) < 2,
(2) rendah untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) berkisar antara 2 s/d 5,
(3) sedang untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) berkisar antara 6 s/d 10,
(4) tinggi untuk nilai Ca-dd (mg/100 g) berkisar antara 11 s/d 20 dan
(5) sangat tinggi untuk nilai Ca-dd (mg/100g) > 20.

Kejenuhan Basa (%)
Nilai prosentase kejenuhan basa tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk Kej. Basa (%) < 20,
(2) rendah untuk Kej. Basa (%) berkisar antara 20 s/d 35,
(3) sedang untuk Kej. Basa (%) berkisar antara 36 s/d 50,
(4) tinggi untuk Kej. Basa (%) berkisar antara 51 s/d 70 dan
(5) sangat tinggi untuk Kej. Basa (%) lebih dari 70.

Kejenuhan Aluminium (%)
Nilai prosentase kejenuhan aluminium tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk Kej. Al (%) < 10,
(2) rendah untuk Kej. Al (%) berkisar antara 10 s/d 20,
(3) sedang untuk Kej. Al (%) berkisar antara 21 s/d 30,
(4) tinggi untuk Kej. Al (%) berkisar antara 31 s/d 60 dan
(5) sangat tinggi untuk Kej. Al (%) lebih dari 60.

Kemasaman Tanah (pH)
Pengelompokan kemasaman tanah berbeda dengan pengelompokkan terhadap sifat kimia tanah lain, karena untuk kemasaman tanah (pH) dikelompokkan dalam enam kategori berikut:
(1) sangat masam untuk pH tanah < 4,5
(2) masam untuk pH tanah berkisar antara 4,5 s/d 5,5
(3) agak masam untuk pH tanah berkisar antara 5,6 s/d 6,5
(4) netral untuk pH tanah berkisar antara 6,6 s/d 7,5
(5) agak alkalis untuk pH tanah berkisar antara 7,6 s/d 8,5
(6) alkalis untuk pH tanah > 8,5.

Sumber Pustaka:
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Melton Putra. Jakarta. 233 Halaman.

Pesan untuk Student Bisnis: http://klikdynasis.net/?id=AB148

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 17:02

Rabu, 21 November 2007

Kriteria Penilaian Sifat Kimia Tanah (Bagian I)

Berdasarkan Pusat Penelitian Tanah (1983) dalam Hardjowigeno (1987), bahwa sebagian besar kriteria status sifat kimia tanah dikelompokkan kedalam lima kategori, yaitu:
(1) sangat rendah,
(2) rendah,
(3) sedang,
(4) tinggi, dan
(5) sangat tinggi.Karbon atau C-organik Tanah
Nilai prosentase karbon dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk C(%) <1,00,
(2) rendah untuk C(%) berkisar antara 1,00 s/d 2,00,
(3) sedang untuk C(%) berkisar antara 2,01 s/d 3,00,
(4) tinggi untuk C(%) berkisar antara 3,01 s/d 5,00 dan
(5) sangat tinggi untuk C(%) lebih dari 5,00.

Nitrogen Tanah
Nilai prosentase nitrogen dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk N(%) <0,10,
(2) rendah untuk N(%) berkisar antara 0,10 s/d 0,20,
(3) sedang untuk N(%) berkisar antara 0,21 s/d 0,50,
(4) tinggi untuk N(%) berkisar antara 0,51 s/d 0,75 dan
(5) sangat tinggi untuk N(%) lebih dari 0,75.

C/N Ratio
Nilai C/N dalam tanah dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk C/N < 5,
(2) rendah untuk C/N berkisar antara 5 s/d 10,
(3) sedang untuk C/N berkisar antara 11 s/d 15,
(4) tinggi untuk C/N berkisar antara 16 s/d 25 dan
(5) sangat tinggi untuk C/N lebih dari 25.

P2O5 metode HCl
Nilai P2O5 dalam tanah yang terukur dengan metode HCl, dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk mg P2O5/100 g tanah < 10,
(2) rendah untuk mg P2O5/100 g tanah berkisar antara 10 s/d 20,
(3) sedang untuk mg P2O5/100 g tanah berkisar antara 21 s/d 40,
(4) tinggi untuk mg P2O5/100 g tanah berkisar antara 41 s/d 60 dan
(5) sangat tinggi untuk mg P2O5/100 g tanah lebih dari 60.

P2O5 metode Bray I
Nilai P2O5 dalam tanah yang terukur dengan metode Bray I, dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk ppm P2O5 < 10,
(2) rendah untuk ppm P2O5 berkisar antara 10 s/d 15,
(3) sedang untuk ppm P2O5 berkisar antara 16 s/d 25,
(4) tinggi untuk ppm P2O5 berkisar antara 26 s/d 35 dan
(5) sangat tinggi untuk ppm P2O5 lebih dari 35.

P2O5 Olsen
Nilai P2O5 dalam tanah yang terukur dengan metode Olsen, dikelompokkan dalam lima kategori berikut:
(1) sangat rendah untuk ppm P2O5 < 10,
(2) rendah untuk ppm P2O5 berkisar antara 10 s/d 25,
(3) sedang untuk ppm P2O5 berkisar antara 26 s/d 45,
(4) tinggi untuk ppm P2O5 berkisar antara 46 s/d 60 dan
(5) sangat tinggi untuk ppm P2O5 lebih dari 60.

Sumber Pustaka:
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Melton Putra. Jakarta. 233 Halaman.

Pesan untuk Student Bisnis: http://klikdynasis.net/?id=AB148

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 03:53

Rabu, 14 November 2007

Mekanisme Penyerapan Hara

Unsur hara dapat tersedia disekitar akar melalui 3 mekanisme penyediaan unsur hara, yaitu: (1) aliran massa, (2) difusi, dan (3) intersepsi akar. Hara yang telah berada disekitar permukaan akar tersebut dapat diserap tanaman melalui dua proses, yaitu:
(1) Proses Aktif, yaitu: proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif atau proses penyerapan hara yang memerlukan adanya energi metabolik, dan
(2) Proses Selektif, yaitu: proses penyerapan unsur hara yang terjadi secara selektif.Proses Aktif:
Proses penyerapan unsur hara dengan energi aktif dapat berlangsung apabila tersedia energi metabolik. Energi metabolik tersebut dihasilkan dari proses pernapasan akar tanaman. Selama proses pernapasan akar tanaman berlangsung akan dihasilkan energi metabolik dan energi ini mendorong berlangsungnya penyerapan unsur hara secara proses aktif. Apabila proses pernapasan akar tanaman berkurang akan menurunkan pula proses penyerapan unsur hara melalui proses aktif. Bagian akar tanaman yang paling aktif adalah bagian dekat ujung akar yang baru terbentuk dan rambut-rambut akar. Bagian akar ini merupakan bagian yang melakukan kegiatan respirasi (pernapasan) terbesar.

Proses Selektif:
Bagian terluar dari sel akar tanaman terdiri dari: (1) dinding sel, (2) membran sel, (3) protoplasma. Dinding sel merupakan bagian sel yang tidak aktif. Bagian ini bersinggungan langsung dengan tanah. Sedangkan bagian dalam terdiri dari protoplasma yang bersifat aktif. Bagian ini dikelilingi oleh membran. Membran ini berkemampuan untuk melakukan seleksi unsur hara yang akan melaluinya. Proses penyerapan unsur hara yang melalui mekanisme seleksi yang terjadi pada membran disebut sebagai proses selektif.
Proses selektif terhadap penyerapan unsur hara yang terjadi pada membran diperkirakan berlangsung melalui suatu carrier (pembawa). Carrier (pembawa) ini bersenyawa dengan ion (unsur) terpilih. Selanjutnya, ion (unsur) terpilih tersebut dibawa masuk ke dalam protoplasma dengan menembus membran sel.
Mekanisme penyerapan ini berlangsung sebagai berikut:
(1) Saat akar tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk kation (K+, Ca2+, Mg2+, dan NH4+) maka dari akar akan dikeluarkan kation H+ dalam jumlah yang setara, serta
(2) Saat akar tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk anion (NO3-, H2PO4-, SO4-) maka dari akar akan dikeluarkan HCO3- dengan jumlah yang setara.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 20:29

Bahan Organik Tanah

Tanah tersusun dari: (a) bahan padatan, (b) air, dan (c) udara. Bahan padatan tersebut dapat berupa: (a) bahan mineral, dan (b) bahan organik. Bahan mineral terdiri dari partikel pasir, debu dan liat. Ketiga partikel ini menyusun tekstur tanah. Bahan organik dari tanah mineral berkisar 5% dari bobot total tanah. Meskipun kandungan bahan organik tanah mineral sedikit (+5%) tetapi memegang peranan penting dalam menentukan Kesuburan Tanah.Definisi Bahan Organik
Bahan organik adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat dan berada didalamnya.

Sumber Bahan Organik Tanah
Bahan organik tanah dapat berasal dari:
(1) sumber primer, yaitu: jaringan organik tanaman (flora) yang dapat berupa: (a) daun, (b) ranting dan cabang, (c) batang, (d) buah, dan (e) akar.
(2) sumber sekunder, yaitu: jaringan organik fauna, yang dapat berupa: kotorannya dan mikrofauna.
(3) sumber lain dari luar, yaitu: pemberian pupuk organik berupa: (a) pupuk kandang, (b) pupuk hijau, (c) pupuk bokasi (kompos), dan (d) pupuk hayati.

Komposisi Biokimia Bahan Organik
Menurut Waksman (1948) dalam Brady (1990) bahwa biomass bahan organik yang berasal dari biomass hijauan, terdiri dari: (1) air (75%) dan (2) biomass kering (25%).

Komposisi biokimia bahan organik dari biomass kering tersebut, terdiri dari:
(1) karbohidrat (60%),
(2) lignin (25%),
(3) protein (10%),
(4) lemak, lilin dan tanin (5%).

Karbohidrat penyusun biomass kering tersebut, terdiri dari:
(1) gula dan pati (1% -s/d- 5%),
(2) hemiselulosa (10% -s/d- 30%), dan
(3) selulosa (20% -s/d- 50%).

Berdasarkan kategori unsur hara penyusun biomass kering, terdiri dari:
(1) Karbon (C = 44%),
(2) Oksigen (O = 40%),
(3) Hidrogen (H = 8%), dan
(4) Mineral (8%).

Dekomposisi Bahan Organik
Proses dekomposisi bahan organik melalui 3 reaksi, yaitu:
(1) reaksi enzimatik atau oksidasi enzimatik, yaitu: reaksi oksidasi senyawa hidrokarbon yang terjadi melalui reaksi enzimatik menghasilkan produk akhir berupa karbon dioksida (CO2), air (H2O), energi dan panas.
(2) reaksi spesifik berupa mineralisasi dan atau immobilisasi unsur hara essensial berupa hara nitrogen (N), fosfor (P), dan belerang (S).
(3) pembentukan senyawa-senyawa baru atau turunan yang sangat resisten berupa humus tanah.

Berdasarkan kategori produk akhir yang dihasilkan, maka proses dekomposisi bahan organik digolongkan menjadi 2, yaitu:
(1) proses mineralisasi, dan
(2) proses humifikasi.

Proses mineralisasi terjadi terutama terhadap bahan organik dari senyawa-senyawa yang tidak resisten, seperti: selulosa, gula, dan protein. Proses akhir mineralisasi dihasilkan ion atau hara yang tersedia bagi tanaman.

Proses humifikasi terjadi terhadap bahan organik dari senyawa-senyawa yang resisten, seperti: lignin, resin, minyak dan lemak. Proses akhir humifikasi dihasilkan humus yang lebih resisten terhadap proses dekomposisi.

Urutan kemudahan dekomposisi dari berbagai bahan penyusun bahan organik tanah dari yang terdekomposisi paling cepat sampai dengan yang terdekomposisi paling lambat, adalah sebagai berikut:
(1) gula, pati, dan protein sederhana,
(2) protein kasar (protein yang leih kompleks),
(3) hemiselulosa,
(4) selulosa,
(5) lemak, minyak dan lilin, serta
(6) lignin.

Humus
Humus dapat didefinisikan sebagai senyawa kompleks asal jaringan organik tanaman (flora) dan atau fauna yang telah dimodifikasi atau disintesis oleh mikrobia, yang bersifat agak resisten terhadap pelapukan, berwarna coklat, amorfus (tanpa bentuk/nonkristalin) dan bersifat koloidal.

Ciri-Ciri Humus
Beberapa ciri dari humus tanah sebagai berikut:
(1) bersifat koloidal (ukuran kurang dari 1 mikrometer), karena ukuran yang kecil menjadikan humus koloid ini memiliki luas permukaan persatuan bobot lebih tinggi, sehingga daya jerap tinggi melebihi liat. KTK koloid organik ini sebesar 150 s/d 300 me/100 g yang lebih tinggi daripada KTK liat yaitu 8 s/d 100 me/100g. Humus memiliki daya jerap terhadap air sebesar 80% s/d 90% dan ini jauh lebih tinggi daripada liat yang hanya 15% s/d 20%. Humus memiliki gugus fungsional karboksil dan fenolik yang lebih banyak.
(2) daya kohesi dan plastisitas rendah, sehingga mengurangi sifat lekat tanah dan membantu granulasi aggregat tanah.
(3) Tersusun dari lignin, poliuronida, dan protein kasar.
(4) berwarna coklat kehitaman, sehingga dapat menyebabkan warna tanah menjadi gelap.

Peranan Bahan Organik Terhadap Tanah
Bahan organik dapat berpengaruh terhadap perubahan terhadap sifat-sifat tanah berikut:
(1) sifat fisik tanah,
(2) sifat kimia tanah, dan
(3) sifat biologi tanah.

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat fisik tanah, meliputi:
(1) stimulan terhadap granulasi tanah,
(2) memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah,
(3) menurunkan plastisitas dan kohesi tanah,
(4) meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil,
(5) mempengaruhi warna tanah menjadi coklat sampai hitam,
(6) menetralisir daya rusak butir-butir hujan,
(7) menghambat erosi, dan
(8) mengurangi pelindian (pencucian/leaching).

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat kimia tanah, meliputi:
(1) meningkatkan hara tersedia dari proses mineralisasi bagian bahan organik yang mudah terurai,
(2) menghasilkan humus tanah yang berperanan secara koloidal dari senyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses humifikasi,
(3) meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar ketimbang koloid anorganik,
(4) menurunkan muatan positif tanah melalui proses pengkelatan terhadap mineral oksida dan kation Al dan Fe yang reaktif, sehingga menurunkan fiksasi P tanah, dan
(5) meningkatkan ketersediaan dan efisiensi pemupukan serta melalui peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik.

Peranan bahan organik terhadap perubahan sifat biologi tanah, meliputi:
(1) meningkatkan keragaman organisme yang dapat hidup dalam tanah (makrobia dan mikrobia tanah), dan
(2) meningkatkan populasi organisme tanah (makrobia dan mikrobia tanah)

Peningkatan baik keragaman mupun populasi berkaitan erat dengan fungsi bahan organik bagi organisme tanah, yaitu sebagai:
(1) bahan organik sebagai sumber energi bagi organisme tanah terutama organisme tanah heterotropik, dan
(2) bahan organik sebagai sumber hara bagi organisme tanah

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 20:25

Senin, 12 November 2007

Mekanisme Penyediaan Unsur Hara untuk Tanaman

Beberapa Unsur Hara Yang Dibutuhkan Tanaman
Selama masa pertumbuhan dan perkembangan, tanaman membutuhkan beberapa unsur hara yang meliputi: Karbon (C), Hidrogen (H), Oksigen (O), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Besi (Fe), Mangan (Mn), Boron (B), Mo, Tembaga (Cu), Seng (Zn) dan Klor (Cl). Unsur hara tersebut tergolong unsur hara Essensial. Unsur hara essensial ini berdasarkan jumlah kebutuhannya bagi tanaman, dikelompokkan menjadi dua, yaitu: (1) unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar disebut Unsur Hara Makro, dan (2) unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah kecil disebut Unsur Hara Mikro. Unsur hara makro meliputi: N, P, K, Ca, Mg, dan S. Unsur hara mikro meliputi: Fe, Mn, B, Mo, Cu, Zn, dan Cl.Mekanisme Penyediaan Unsur Hara
Penyediaan unsur hara untuk tanaman terdiri dari tiga kategori, yaitu: (1) tersedia dari udara, (2) tersedia dari air yang diserap akar tanaman, dan (3) tersedia dari tanah. Beberapa unsur hara yang tersedia dalam jumlah cukup dari udara adalah: (a) Karbon (C), dan (b) Oksigen (O), yaitu dalam bentuk karbon dioksida (CO2). Unsur hara yang tersedia dari air (H2O) yang diserap adalah: hidrogen (H), karena oksigen dari molekul air mengalami proses oksidasi dan dibebaskan ke udara oleh tanaman dalam bentuk molekul oksigen (O2). Sedangkan untuk unsur hara essensial lain yang diperlukan tanaman tersedia dari dalam tanah.

Mekanisme penyediaan unsur hara dalam tanah melalui tiga mekanisme, yaitu:
1. Aliran Massa (Mass Flow)
2. Difusi
3. Intersepsi Akar

Mekanisme Aliran Massa
Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur hara di dalam tanah menuju ke permukaan akar bersama-sama dengan gerakan massa air. Selama masa hidup tanaman mengalami peristiwa penguapan air yang dikenal dengan peristiwa transpirasi. Selama proses transpirasi tanaman berlangsung, terjadi juga proses penyerapan air oleh akar tanaman. Pergerakan massa air ke akar tanaman akibat langsung dari serapan massa air oleh akar tanaman terikut juga terbawa unsur hara yang terkandung dalam air tersebut. Peristiwa tersedianya unsur hara yang terkandung dalam air ikut bersama gerakan massa air ke permukaan akar tanaman dikenal dengan Mekanisme Aliran Massa. Unsur hara yang ketersediaannya bagi tanaman melalui mekanisme ini meliputi: nitrogen (98,8%), kalsium (71,4%), belerang (95,0%), dan Mo (95,2%).

Mekanisme Difusi
Ketersediaan unsur hara ke permukaan akar tanaman, dapat juga terjadi karena melalui mekanisme perbedaan konsentrasi. Konsentrasi unsur hara pada permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan dengan konsentrasi hara dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur hara pada permukaan koloid liat serta pada permukaan koloid organik. Kondisi ini terjadi karena sebagian besar unsur hara tersebut telah diserap oleh akar tanaman. Tingginya konsentrasi unsur hara pada ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi dari unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman. Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan konsentrasi unsur hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan hara secara difusi. Beberapa unsur hara yang tersedia melalui mekanisme difusi ini, adalah: fosfor (90,9%) dan kalium (77,7%).

Mekanisme Intersepsi Akar
Mekanisme intersepsi akar sangat berbeda dengan kedua mekanisme sebelumnya. Kedua mekanisme sebelumnya menjelaskan pergerakan unsur hara menuju ke akar tanaman, sedangkan mekanisme ketiga ini menjelaskan gerakan akar tanaman yang memperpendek jarak dengan keberadaan unsur hara. Peristiwa ini terjadi karena akar tanaman tumbuh dan memanjang, sehingga memperluas jangkauan akar tersebut. Perpanjangan akar tersebut menjadikan permukaan akar lebih mendekati posisi dimana unsur hara berada, baik unsur hara yang berada dalam larutan tanah, permukaan koloid liat dan permukaan koloid organik. Mekanisme ketersediaan unsur hara tersebut dikenal sebagai mekanisme intersepsi akar. Unsur hara yang ketersediaannya sebagian besar melalui mekanisme ini adalah: kalsium (28,6%).

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 17:34

Minggu, 11 November 2007

Kapasitas Tukar Kation (KTK)

Pengertian Kapasitas Tukar Kation
Salah satu sifat kimia tanah yang terkait erat dengan ketersediaan hara bagi tanaman dan menjadi indikator kesuburan tanah adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK) atau Cation Exchangable Cappacity (CEC). KTK merupakan jumlah total kation yang dapat dipertukarkan (cation exchangable) pada permukaan koloid yang bermuatan negatif. Satuan hasil pengukuran KTK adalah milliequivalen kation dalam 100 gram tanah atau me kation per 100 g tanah.Beberapa Istilah KTK
Berdasarkan pada jenis permukaan koloid yang bermuatan negatif, KTK dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1. KTK koloid anorganik atau dikenal sebagai KTK liat tanah,
2. KTK koloid organik atau dikenal sebagai KTK bahan organik tanah, dan
3. KTK total atau KTK tanah.

KTK Koloid Anorganik atau KTK Liat
KTK liat adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid anorganik (koloid liat) yang bermuatan negatif.
Nilai KTK liat tergantung dari jenis liat, sebagai contoh:
a. Liat Kaolinit memiliki nilai KTK = 3 s/d 5 me/100 g.
b. Liat Illit dan Liat Klorit, memiliki nilai KTK = 10 s/d 40 me/100 g.
c. Liat Montmorillonit, memiliki nilai KTK = 80 s/d 150 me/100 g.
d. Liat Vermikullit, memiliki nilai KTK = 100 s/d 150 me/100 g.

KTK Koloid Organik
KTK koloid organik sering disebut juga KTK bahan organik tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid organik yang bermuatan negatif.
Nilai KTK koloid organik lebih tinggi dibandingkan dengan nilai KTK koloid anorganik. Nilai KTK koloid organik berkisar antara 200 me/100 g sampai dengan 300 me/100 g.

KTK Total atau KTK Tanah
KTK total merupakan nilai KTK dari suatu tanah adalah jumlah total kation yang dapat dipertukarkan dari suatu tanah, baik kation-kation pada permukaan koloid organik (humus) maupun kation-kation pada permukaan koloid anorganik(liat).

Perbedaan KTK Tanah Berdasarkan Sumber Muatan Negatif
Berdasarkan sumber muatan negatif tanah, nilai KTK tanah dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. KTK muatan permanen, dan
2. KTK muatan tidak permanen.

KTK Muatan Permanen

KTK muatan permanen adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif berasal dari mekanisme substitusi isomorf. Substitusi isomorf adalah mekanisme pergantian posisi antar kation dengan ukuran atau diameter kation hampir sama tetapi muatan berbeda. Substitusi isomorf ini terjadi dari kation bervalensi tinggi dengan kation bervalensi rendah di dalam struktur lempeng liat, baik lempeng liat Si-tetrahedron maupun Al-oktahedron.

Contoh peristiwa terjadinya muatan negatif diatas adalah: (a). terjadi substitusi isomorf dari posisi Si dengan muatan 4+ pada struktur lempeng liat Si-tetrahedron oleh Al yang bermuatan 3+, sehingga terjadi kelebihan muatan negatif satu, (b). terjadinya substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+ pada struktur liat Al-oktahedron oleh Mg yang bermuatan 2+, juga terjadi muatan negatif satu, dan (c). terjadi substitusi isomorf dari posisi Al yang bermuatan 3+ dari hasil substitusi isomorf terdahulu pada lempeng liat Si-tetrahedron yang telah bermuatan neatif satu, digantikan oleh Mg yang bermuatan 2+, maka terjadi lagi penambahan muatan negatif satu, sehingga terbentuk muatan negatif dua pada lempeng liat Si-tetrahedron tersebut. Muatan negatif yang terbentuk ini tidak dipengaruhi oleh terjadinya perubahan pH tanah. KTK tanah yang terukur adalah KTK muatan permanen.


KTK Muatan Tidak Permanen

KTK muatan tidak permanen atau KTK tergantung pH tanah adalah jumlah kation yang dapat dipertukarkan pada permukaan koloid liat dengan sumber muatan negatif liat bukan berasal dari mekanisme substitusi isomorf tetapi berasal dari mekanisme patahan atau sembulan di permukaan koloid liat, sehingga tergantung pada kadar H+ dan OH- dari larutan tanah.

Hasil Pengukuran KTK Tanah
Berdasarkan teknik pengukuran dan perhitungan KTK tanah di laboratorium, maka nilai KTK dikelompokkan menjadi 2, yaitu:
1. KTK Efektif, dan
2. KTK Total.

Diposkan oleh Dr. Ir. Abdul Madjid, MS di 17:54 0 komentar

Selasa, 06 November 2007

Sifat Kimia Tanah

Komponen Aktif Tanah
Tekstur tanah tersusun dari tiga komponen, yaitu: pasir, debu dan liat. Ketiga komponen tersebut dibedakan berdasarkan ukurannya yang berbeda. Partikel pasir berukuran antara 200 mikrometer sampai dengan 2000 mikrometer. Partikel debu berukuran antara 2 mikrometer sampai dengan kurang dari 200 mikrometer. Partikel liat berukuran kurang dari 2 mikrometer. Makin halus ukuran partikel penyusun tanah tersebut akan memiliki luas permukaan partikel per satuan bobot makin luas. Partikel tanah yang memiliki permukaan yang lebih luas memberi kesempatan yang lebih banyak terhadap terjadinya reaksi kimia. Partikel liat persatuan bobot memiliki luas permukaan yang lebih luas dibandingkan dengan kedua partikel penyusun tekstur tanah lain (seperti: debu dan pasir). Reaksi-reaksi kimia yang terjadi pada permukaan patikel liat lebih banyak daripada yang terjadi pada permukaan partikel debu dan pasir persatuan bobot yang sama. Dengan demikian, partikel liat adalah komponen tanah yang paling aktif terhadap reaksi kimia, sehingga sangat menentukan sifat kimia tanah dan mempengaruhi kesuburan tanah.

Beberapa Sifat Kimia Tanah
Beberapa sifat kimia tanah yang penting untuk diketahui dan dipahami, meliputi: (1) pH tanah, (2) kandungan karbon organik, (3) kandungan nitrogen, (4) rasio karbon dan nitrogen (C/N), (5) kandungan fosfor tanah, terdiri dari: P-tersedia dan P-total tanah, (6) kandungan kation basa dapat dipertukarkan, (7) kandungan kation asam, (8) kejenuhan basa (KB), dan (9) kapasitas tukar kation (KTK), mencakup: KTK liat, KTK tanah, KTK efektif, KTK muatan permanen dan KTK muatan tergantung pH tanah, serta (10) kejenuhan aluminium.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s